TUGAS
UJIAN AKHIR
MATA
KULIAH ISLAM BUDAYA LOKAL
“TRADISI
ADAT MADURA SIANTAN ( PONTIANAK)”
(
Tradisi Pelet Kandhung atau Tujuh Bulanan pada orang Hamil )
DOSEN
PENGAMPU : EKA HENDRI, M.Si
O
L
E
H
PERI:
1121100064

SEMESTER/KELAS:
II/B
JURUSAN TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM NEGERI
(STAIN) PONTIANAK
2013
PEMBAHASAN
A. Upacara Tradisi Tujuh Bulanan pada orang Hamil
Madura Pontianak.
Tradisi tujuh bulanan atau dalam bahasa maduranya
adalah pelet Kandhung merupakan tradisi adat madura baik yang ada di pontianak (
Kalbar ) maupun yang ada di pulau jawa itu sama, akan tetapi agak berbeda dalam
tata cara upacarnya melakukan caranya dalam tradisinya.
Tradisi ini memang sangat melekat kepada nenek
moyang mereka yang telah mengajarkan tradisi ini sebagai bentuk penghormatan
kepada leluhur dan penghormatan kepada sang wanita yang hendak melahirkan.
Masyarakat madura sangat dikenal dengan ritualnya dan tradisnya oleh karena itu
masyarakat madura lebih mengedepankan dan masih menahankan tradisinya, mereka
beranggapan bahwa tradisi ini di bawa oleh nenek moyang mereka sejak dahulu
pernah melakukanya dan mewariskan kepada masyarakat madura.
Usaha
tersebut diwujudkan dalam bentuk upacara yang kemudian dikenal sebagai upacara
lingkaran hidup individu yang meliputi: kehamilan, kelahiran, khitanan,
perkawinan, dan kematian.
Masa-masa
itu adalah peralihan dari tingkat kehidupan yang satu ke tingkat kehidupan
lainnya (dari manusia masih berupa janin sampai meninggal dunia). Oleh karena masa-masa
tersebut dianggap sebagai masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya, maka
diperlukan adanya suatu usaha untuk menetralkannya, sehingga dapat dilalui
dengan selamat melalui tardisi ini yang sering disebut orang madura pelet
kandhungan.
Masyarakat madura maupun yang ada dipontianak mempercayai
bahwa kehidupan manusia selalu diiringi dengan masa-masa kritis, yaitu suatu
masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya.
Tulisan dan
penelitian kami ini terfokus pada upacara masa kehamilan yang disebut sebagai
pelet kandhung atau pelet betteng ( pijat perut) pada masyarakat Madura,
khususnya yang berada di siantan ( Pontianak ) dan sekitarnya.
B.
Waktu,
Tempat, ( Time and Place ), Pemimpin dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam
Upacara tardisi Tujuh Bulanan atau Pelet Khandung
Penyelenggaraan
upacara pelet kandhung diadakan ketika usia kandungan seseorang telah mencapai
tujuh bulan. Sebelum upacara diadakan, pada bulan pertama saat seorang
perempuan mulai mengandung, diadakan upacara nandai. Pada saat upacara nandai
selesai, akan ditaruh sebiji bigilan atau beton (biji nangka) di atas sebuah
leper (tatakan cangkir) dan diletakkan di atas meja. Setiap bulannya, di leper
itu ditambah satu biji bigilan sesuai dengan hitungan usia kandungan perempuan
tersebut.
Kemudian,
pada saat di atas leper itu telah ada tujuh biji bigilan yang menandakan bahwa
usia kandungan telah mencapai tujuh bulan, maka diadakanlah upacara pelet
kandhung atau pelet betteng. Sebagai catatan, upacara masa kehamilan yang
disebut sebagai pelet kandhung ini diadakan secara meriah hanya pada saat
seorang perempuan mengalami masa kehamilan untuk yang pertama kalinya.
Pada masa
kehamilan yang kedua, ketiga, dan seterusnya, upacara pelet kandhung tetap
diadakan, namun tidak semeriah upacara pada saat mengalami kehamilan untuk
pertama kalinya.
Seluruh
rentetan upacara ini biasanya dilakukan pada malam bulan purnama setelah sholat
Isya, dengan pertimbangan bahwa malam bulan purnama adalah malam yang dirahmati
Tuhan dan para peserta upacara telah terlepas dari rutinitas keseharian mereka.
Tempat
pelaksanaan upacara pelet kandhung bergantung dari tahapan-tahapan yang harus
dilalui. Untuk prosesi pelet kandhung, penyepakan ayam, penginjakan telur ayam
dan kelapa muda, dilakukan di dalam kamar atau bilik orang yang sedang
mengandung. Untuk prosesi pemandian dilakukan di kamar mandi atau di halaman
belakang rumah.
Upacara ini
dipimpin oleh seorang dukun baji (dukun beranak) dan dibantu oleh agung bine
atau emba nya (nenek dari perempuan hamil yang sedang diupacarai). Sedangkan,
acara kenduri dilaksanakan di ruang tamu dan dipimpin oleh seorang kyai atau
ulama setempat. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam upacara pelet khandung
(tradisi tujuh bulanan) adalah ayah, ibu serta sanak kerabat dari perempuan
yang hamil itu maupun orang tua dan sanak kerabat dari pihak suaminya. Di
samping sanak kerabat tersebut, hadir pula para tetangga yang sebagian besar
adalah perempuan dewasa atau yang sudah kawin.
Di dalam
tardisi madura Pontianak khususnya taradisi tujuh bulan yang dalam arti madura
itu sendiri adalah pelet khandung atau pelet betteng ini hampir sama dengan
tardisi madura yang ada di Jawa Timur. Tardisi madura Pontianak ini bertujuan
agar oarang yang hamil itu bisa mendapatkan keturunan yang baik dan berguna
kelak di masyarakat. Sehingga mereka tidak mau meninggalkan tradisi ini yang
telah turun menurun mewarisi masyarakat madura khusunya di pontianak.
Sampai
sekarang adat dan tradisi ini masih dilakukan oleh masyarakat madura pontianak
walaupun tidak semuanya melakukan karena banyak juga masyarakat madura
pontianak yang sudah modern atau yang sudah mengerti akan kemoderatan tardisi
ini sehingga mereka meninggalkan tardisi tersebut.
C.
Tahap-
Tahap ( Step of Ritual ) Tradisi Pelet
Khandung
Sebagaimana
upacara pada umumnya, upacara pelet kandhung ini juga dilakukan secara
bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui oleh seseorang dalam upacara ini
adalah sebagai berikut:
(1). Tahap
pelet kandhung (pijat perut)
(2). Tahap
penyepakan ayam.
(3). Tahap
penginjakan kelapa muda dan telur.
(4). Tahap
pemandian.
(5). Tahap orasol (kenduri).
Inilah tahap – tahap atau Step of Ritual dari tradsi pelet khandung madura
pontianak khususnya di siantan. Ini merupakan salah satu jalanya untuk
menentukan bagaimana berlangsungnya tardisi ini.
D.
Nilai-Nilai Budaya ( System Of Value ) dari Tradisi Pelat Khandung
Madura Pontianak
Ada beberapa
nilai yang terkandung dalam upacara pelet kandhung. Nilai-nilai itu antara lain
adalah kebersamaan, ketelitian, gotong royong, keselamatan, dan religius. Nilai
kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian sanak kerabat untuk berdoa
bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup
bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini
mengandung pula nilai kebersamaan.
Nilai
ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses,
upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun
sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara,
tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus
dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan
lancar.
Nilai religius
tercermin dalam doa bersama yang dipimpin oleh kyae atau ulama setempat, pada
acara orasol (kenduri) yang merupakan salah satu bagian dari serentetan tahapan
dalam upacara pelet kandhung. Tujuannya adalah agar sang bayi mendapatkan
perlindungan dari Tuhan.
E.
Pengaruh
Oleh Apa ( IMPACT ) Tradisi Pelet
Kandhung
Menurut para
tokoh masyarakat madura pontianak yang berada di siantan, (Bpk Slamet Ilyas) salah
satu dari tokoh masyarakat madura pontinak, mengatakan bahwa tardisi ini, pelet
kandhung atau tujuh bulanan pada orang hamil merupakan pengaruh dari nenek
moyang mereka yang beranggapan bahwa nenek moyang merakalah yang membawa dan
mengajarkan tradisi ini sejak dahulu kala mereka hanya mengikut orang saja dan mewarisi tardisi ini, dan para tokoh
masyarakat ( Bpk Munasan) tokoh masyrakat madura pontianak yang berada di
siantan juga mengatakan bahwa tardisi ini di bawa oleh para pendatang orang
jawa yang menganut agama islam yang merantau ke kalimantan khususnya di
pontianak dan menikah dengan orang madura. Bisa disimpulkan bahwa tardisi ini
menurut mereka juga berasal dari Islam yang di bawa oleh orang Jawa. Tradisi
ini menurut meraka bersal dari islam.
F.
Nilai Filosofi ( Values Of
Philosophy ) dari tardisi Madura Pontianak.
Adapun dengan adanya pelet kandhung atau
pelet betteng ini sangat mempunyai nilai filosofi yaitu sebuah bahasa dari
madura pontinak yaitu :
Ontok keselametan ibu ben anak yang i kandung
( Untuk keselamatan Ibu dan Anak yang di
kandung)
Ontok akumpol ben keluarga baik dari phisan lake’ maupun phisan binik’
( Untuk berkumpulnya atau bertemu
keluarga baik dari besan Laki maupun besan besan Perempuan.)
Inilah yang menjadi filosofi adat atau
tradisi madura pontianak menurut salah satu
tokoh masyarakat madura di siantan khususnya tradisi pelet khandung. Mungkin
inilah menurut mereka yang menjadi sebuah filosofi, sehingga mereka sangat
menitikberatkan kata-kata ini.
G.
Kesimpulan
Jadi berdasarkan penelitian kami
ini, mengenai tradisi madura Pontianak, khususnya di siantan ini bisa disimpulkan
bahwa tardisi ini yaitu tradisi Pelet Kandhung adalah sebuah tradisi warisan
dari nenek moyang masyarakat madura Pontianak khususya di Siantan ini, dan juga
merupakan tradisi dari orang jawa yang merantau ke Pontiank (KAL-BAR) yang
menikah dengan orang madura pontiank, sehingga kebiasaan tradisi orang jawa ini
dikembangkan oleh masyrakat madura Pontianak yaitu, menurut salah satu tokoh
masyarakat madura Pontianak yang berada di siantan.
Menurut masyarakat madura lainya mengatakn bahwa tradisi ini merupakan
dari kebiasaan orang islam terdahulu, jadi bisa dikatakan tradisi ini berasal
dari Islam.
Tradisi pelet khandung inilah adalah peringatan
kepada orang hamil yaitu pada tujuh bulanan masa kehamilan seorang wanita.
Tardisi pelet khandung yang ada di
pontianak hampir sama dengan masyarakat madura yang ada di Jawa Timur, tetapi
agak berbeda dalam tata cara ritual dan penyelenggaranya upacaranya. Jadi
taradisi ini merupakan tardisi peringatan masa kehamilan seorang wanita yaitu
pada hari ke tujuh bulanan.
Sumber Iformasi dan Data
http://www.tradisiadatmadurapontianak.com/index.php?option=com content&view=article&id:tradisi
madura pontianak.
Bapak Slamet Ilyas. Masyarakat madura Siantan
Pontianak.
Bapak Munasan. Tokoh Masyarakat Madura Siantan
Pontianak.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar