Jumat, 28 Juni 2013

tradisi madura pontianak (siantan)



TUGAS UJIAN AKHIR
MATA KULIAH  ISLAM BUDAYA LOKAL
“TRADISI ADAT MADURA SIANTAN ( PONTIANAK)”
( Tradisi Pelet Kandhung atau Tujuh Bulanan pada orang Hamil )
DOSEN PENGAMPU : EKA HENDRI, M.Si
O
L
E
H
PERI: 1121100064
SEMESTER/KELAS: II/B
JURUSAN TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN)  PONTIANAK 
2013



PEMBAHASAN


A.    Upacara Tradisi Tujuh Bulanan pada orang Hamil Madura Pontianak.

Tradisi tujuh bulanan atau dalam bahasa maduranya adalah pelet Kandhung merupakan tradisi adat madura baik yang ada di pontianak ( Kalbar ) maupun yang ada di pulau jawa itu sama, akan tetapi agak berbeda dalam tata cara upacarnya melakukan caranya dalam tradisinya.
Tradisi ini memang sangat melekat kepada nenek moyang mereka yang telah mengajarkan tradisi ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan penghormatan kepada sang wanita yang hendak melahirkan. Masyarakat madura sangat dikenal dengan ritualnya dan tradisnya oleh karena itu masyarakat madura lebih mengedepankan dan masih menahankan tradisinya, mereka beranggapan bahwa tradisi ini di bawa oleh nenek moyang mereka sejak dahulu pernah melakukanya dan mewariskan kepada masyarakat madura.
Usaha tersebut diwujudkan dalam bentuk upacara yang kemudian dikenal sebagai upacara lingkaran hidup individu yang meliputi: kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian.
Masa-masa itu adalah peralihan dari tingkat kehidupan yang satu ke tingkat kehidupan lainnya (dari manusia masih berupa janin sampai meninggal dunia). Oleh karena masa-masa tersebut dianggap sebagai masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya, maka diperlukan adanya suatu usaha untuk menetralkannya, sehingga dapat dilalui dengan selamat melalui tardisi ini yang sering disebut orang madura pelet kandhungan.
 Masyarakat madura maupun yang ada dipontianak mempercayai bahwa kehidupan manusia selalu diiringi dengan masa-masa kritis, yaitu suatu masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya.
Tulisan dan penelitian kami ini terfokus pada upacara masa kehamilan yang disebut sebagai pelet kandhung atau pelet betteng ( pijat perut) pada masyarakat Madura, khususnya yang berada di siantan ( Pontianak ) dan sekitarnya.



B.     Waktu, Tempat, ( Time and Place ), Pemimpin dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara tardisi Tujuh Bulanan atau Pelet Khandung

Penyelenggaraan upacara pelet kandhung diadakan ketika usia kandungan seseorang telah mencapai tujuh bulan. Sebelum upacara diadakan, pada bulan pertama saat seorang perempuan mulai mengandung, diadakan upacara nandai. Pada saat upacara nandai selesai, akan ditaruh sebiji bigilan atau beton (biji nangka) di atas sebuah leper (tatakan cangkir) dan diletakkan di atas meja. Setiap bulannya, di leper itu ditambah satu biji bigilan sesuai dengan hitungan usia kandungan perempuan tersebut.
Kemudian, pada saat di atas leper itu telah ada tujuh biji bigilan yang menandakan bahwa usia kandungan telah mencapai tujuh bulan, maka diadakanlah upacara pelet kandhung atau pelet betteng. Sebagai catatan, upacara masa kehamilan yang disebut sebagai pelet kandhung ini diadakan secara meriah hanya pada saat seorang perempuan mengalami masa kehamilan untuk yang pertama kalinya.
Pada masa kehamilan yang kedua, ketiga, dan seterusnya, upacara pelet kandhung tetap diadakan, namun tidak semeriah upacara pada saat mengalami kehamilan untuk pertama kalinya.

Seluruh rentetan upacara ini biasanya dilakukan pada malam bulan purnama setelah sholat Isya, dengan pertimbangan bahwa malam bulan purnama adalah malam yang dirahmati Tuhan dan para peserta upacara telah terlepas dari rutinitas keseharian mereka.
Tempat pelaksanaan upacara pelet kandhung bergantung dari tahapan-tahapan yang harus dilalui. Untuk prosesi pelet kandhung, penyepakan ayam, penginjakan telur ayam dan kelapa muda, dilakukan di dalam kamar atau bilik orang yang sedang mengandung. Untuk prosesi pemandian dilakukan di kamar mandi atau di halaman belakang rumah.
Upacara ini dipimpin oleh seorang dukun baji (dukun beranak) dan dibantu oleh agung bine atau emba nya (nenek dari perempuan hamil yang sedang diupacarai). Sedangkan, acara kenduri dilaksanakan di ruang tamu dan dipimpin oleh seorang kyai atau ulama setempat. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam upacara pelet khandung (tradisi tujuh bulanan) adalah ayah, ibu serta sanak kerabat dari perempuan yang hamil itu maupun orang tua dan sanak kerabat dari pihak suaminya. Di samping sanak kerabat tersebut, hadir pula para tetangga yang sebagian besar adalah perempuan dewasa atau yang sudah kawin.
Di dalam tardisi madura Pontianak khususnya taradisi tujuh bulan yang dalam arti madura itu sendiri adalah pelet khandung atau pelet betteng ini hampir sama dengan tardisi madura yang ada di Jawa Timur. Tardisi madura Pontianak ini bertujuan agar oarang yang hamil itu bisa mendapatkan keturunan yang baik dan berguna kelak di masyarakat. Sehingga mereka tidak mau meninggalkan tradisi ini yang telah turun menurun mewarisi masyarakat madura khusunya di pontianak.
Sampai sekarang adat dan tradisi ini masih dilakukan oleh masyarakat madura pontianak walaupun tidak semuanya melakukan karena banyak juga masyarakat madura pontianak yang sudah modern atau yang sudah mengerti akan kemoderatan tardisi ini sehingga mereka meninggalkan tardisi tersebut.


C.    Tahap- Tahap  ( Step of Ritual ) Tradisi Pelet Khandung

Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara pelet kandhung ini juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui oleh seseorang dalam upacara ini adalah sebagai berikut:

(1). Tahap pelet kandhung (pijat perut)
(2). Tahap penyepakan ayam.
(3). Tahap penginjakan kelapa muda dan telur.
(4). Tahap pemandian.
                        (5). Tahap orasol (kenduri).

Inilah tahap – tahap atau Step of Ritual dari tradsi pelet khandung madura pontianak khususnya di siantan. Ini merupakan salah satu jalanya untuk menentukan bagaimana berlangsungnya tardisi ini.





D.    Nilai-Nilai Budaya ( System Of Value ) dari Tradisi Pelat Khandung Madura Pontianak

Ada beberapa nilai yang terkandung dalam upacara pelet kandhung. Nilai-nilai itu antara lain adalah kebersamaan, ketelitian, gotong royong, keselamatan, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian sanak kerabat untuk berdoa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan.
Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar.
Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang dipimpin oleh kyae atau ulama setempat, pada acara orasol (kenduri) yang merupakan salah satu bagian dari serentetan tahapan dalam upacara pelet kandhung. Tujuannya adalah agar sang bayi mendapatkan perlindungan dari Tuhan.

E.     Pengaruh Oleh Apa (  IMPACT ) Tradisi Pelet Kandhung

Menurut para tokoh masyarakat madura pontianak yang berada di siantan, (Bpk Slamet Ilyas) salah satu dari tokoh masyarakat madura pontinak, mengatakan bahwa tardisi ini, pelet kandhung atau tujuh bulanan pada orang hamil merupakan pengaruh dari nenek moyang mereka yang beranggapan bahwa nenek moyang merakalah yang membawa dan mengajarkan tradisi ini sejak dahulu kala mereka hanya mengikut orang  saja dan mewarisi tardisi ini, dan para tokoh masyarakat ( Bpk Munasan) tokoh masyrakat madura pontianak yang berada di siantan juga mengatakan bahwa tardisi ini di bawa oleh para pendatang orang jawa yang menganut agama islam yang merantau ke kalimantan khususnya di pontianak dan menikah dengan orang madura. Bisa disimpulkan bahwa tardisi ini menurut mereka juga berasal dari Islam yang di bawa oleh orang Jawa. Tradisi ini menurut meraka bersal dari islam.



F.     Nilai Filosofi ( Values Of  Philosophy ) dari tardisi Madura Pontianak.

            Adapun dengan adanya pelet kandhung atau pelet betteng ini sangat mempunyai nilai filosofi yaitu sebuah bahasa dari madura pontinak yaitu   :

Ontok keselametan ibu ben anak yang i kandung

( Untuk keselamatan Ibu dan Anak yang di kandung)

Ontok akumpol ben keluarga baik dari phisan lake’ maupun phisan binik’

( Untuk berkumpulnya atau bertemu keluarga baik dari besan Laki maupun besan besan Perempuan.)
             
             Inilah yang menjadi filosofi adat atau tradisi madura pontianak menurut salah  satu tokoh masyarakat madura di siantan khususnya tradisi pelet khandung. Mungkin inilah menurut mereka yang menjadi sebuah filosofi, sehingga mereka sangat menitikberatkan kata-kata ini.



G.    Kesimpulan

            Jadi berdasarkan penelitian kami ini, mengenai tradisi madura Pontianak, khususnya di siantan ini bisa disimpulkan bahwa tardisi ini yaitu tradisi Pelet Kandhung adalah sebuah tradisi warisan dari nenek moyang masyarakat madura Pontianak khususya di Siantan ini, dan juga merupakan tradisi dari orang jawa yang merantau ke Pontiank (KAL-BAR) yang menikah dengan orang madura pontiank, sehingga kebiasaan tradisi orang jawa ini dikembangkan oleh masyrakat madura Pontianak yaitu, menurut salah satu tokoh masyarakat madura Pontianak yang berada di siantan.
           Menurut masyarakat madura lainya mengatakn bahwa tradisi ini merupakan dari kebiasaan orang islam terdahulu, jadi bisa dikatakan tradisi ini berasal dari Islam.
Tradisi pelet khandung inilah adalah peringatan kepada orang hamil yaitu pada tujuh bulanan masa kehamilan seorang wanita.
             Tardisi pelet khandung yang ada di pontianak hampir sama dengan masyarakat madura yang ada di Jawa Timur, tetapi agak berbeda dalam tata cara ritual dan penyelenggaranya upacaranya. Jadi taradisi ini merupakan tardisi peringatan masa kehamilan seorang wanita yaitu pada hari ke tujuh bulanan.

Sumber Iformasi dan Data


http://www.tradisiadatmadurapontianak.com/index.php?option=com content&view=article&id:tradisi madura pontianak.

Bapak Slamet Ilyas. Masyarakat madura Siantan Pontianak.

Bapak Munasan. Tokoh Masyarakat Madura Siantan Pontianak.


.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar